Yahudi Kaifeng, Bangsa Yahudi yang bermata sipit

Yahudi Kaifeng, Bangsa Yahudi yang bermata sipit

Melihat jejak 1000 tahun bangsa yahudi

 

 

Agak mengherankan melihat cina yang mayoritas menganut kepercayaan budha , namun juga memiliki fakta unik bahwa masyarakat yahudi hidup pada abad ke – 20 dan juga berkembang pesat di kota- kota besar cina seperti guangzhou, kaifeng , quanzhou dan yangzhou kesemua kota tersebut dijadikan tempat berkembanganya peradaban masyarakat yahudi di cina.

salah satu kota besar di cina yaitu kaifeng pernah dijadikan ibu kota kekaisaran dinasti sung hingga berabad- abad lamanya dan penduduknya lebih besar dari kota- kota di eropa pada abad pertengahan dan juga membentuk dominasi di cina sendiri.

Yahudi Kaifeng adalah komunitas Yahudi di Tiongkok yang paling lengkap catatannya. Mereka tinggal di dalam kota Kaifeng di provinsi Henan. Meskipun di antara penduduk Cina umumnya mereka tidak begitu menonjol, mereka telah menarik minat banyak pengunjung Eropa yang ingin mengetahui lebih jauh tentang pusat budaya Yahudi yang paling jauh letaknya ini. Meskipun orang Yahudi di Tiongkok biasanya menyebut diri mereka Youtai (ata Youtai ren/犹太人; ren=orang) dalam bahasa Mandarin standar — juga istilah untuk Yahudi pada umumnya dalam bahasa Mandarin pada masa kini — komunitas ini telah lama dikenal oleh tetangga-tetangga mereka orang-orang suku Han sebagai pemeluk Diao jin jiao (扚筋教), yang artinya lebih kurang, agama yang tidak makan urat.

 

 

terdapat banyak teori tentang masuknya yahudi ke cina  banyak sumber mengatakan bahwa yahudi dari cina berasal dari israel , namun beberapa ahli sejarah mengungkapkan bahwa mereka datang saat dinasti tang (618-906 sm). namun berbagai bukti tersebut kurang akurat , namun bila secara logika masyrakat yahudi yang datang ke cina merupakan bangsa atau penduduk pendatang yang bermukim dan membentuk peradapan karena berkembang zaman yahudi kaifeng atau yahudi di cina banyak yang mengalami pencampuran dengan penduduk asli di cina. sebutan masyrakat yahudi di cina dahulu ” hui hui” istilah ini populer di timur tengah .

orang- orang cina asli menyebut masyarakat yahudi di kaifeng dengan sebutan ” hui- hui bertopi biru”. penamaan ini didasari dari pelaksanaan ritual keagamaan mereka yang mengenakan sorban putih dan sepatu biru hal inilah yang menjadi ciri khas dari yahudi di kaifeng.

Dari sejumlah laporan dan penelitian yang berhasil dihimpun, ternyata orang Yahudi di Kaifeng, China umumnya, telah mengalami evolusi yang luar biasa. Seorang profesor baru-baru ini mengunjungi sebuah rumah di Kaifeng yang pernah menjadi ibukota Kerajaan Song Utara ini. Zhao Hanyang, pemandu yang berusia 84 tahun ini tinggal di sebuah gang kecil pemukiman orang Yahudi. Di depan gang tertulis “Jingjiao Hutong” dalam tulisan China dan Ibrani.

“Keluarga kami tinggal disini. Setelah meninggalkan Israel, mereka akhirnya datang ke Cina. Itu sekitar 1000 tahun lalu. Awalnya, semua orang yang tinggal di daerah ini semuanya orang Yahudi. Tapi, sebagian besar keluarga itu sekarang sudah pindah, dan orang lain datang ke sini. Jadi hanya keluarga kami saja, keluarga Yahudi yang tersisa di sini.” Tepat di belakang rumah Zhao adalah rumah sakit Cina, Kaifeng. Rumah sakit itu dibangun di atas satu sinagog tempat para warga Yahudi setempat berkumpul dan berdoa. Sinagog itu hancur pada 1851 (catatan lain mengatakan karena Pemberontakan Tai Ping 1850), karena kena banjir luapan Sungai Kuning.

Yang tersisa hanyalah penutup sumur dari bahan besi, di ruang ketel rumah sakit. Sejarahwan lokal Hua Bangyan menuturkan, orang Yahudi pertama kali datang ke sini pada abad ke 10 dari India.

 

 

Meskipun hidup hampir terisolasi dan tanpa hubungan apapun dengan diaspora Yahudi di luar Cina, komunitas ini masih mampu mempertahankan tradisi-tradisi dan kebiasaan-kebiasaan Yahudi selama ratusan tahun. Namun, meskipun mereka tidak mengalami diskriminasi ataupun penganiayaan dari pihak orang-orang Tionghoa, suatu proses asimilias yang bertahap berlangsung terus. Hingga abad ke-17, asimilasi orang-orang Yahudi Kaifeng berlangsung secara intensif dan semakin meningkat. Hal ini mengakibatkan perubahan-perubahan dalam kebiasaan-kebiasaan agama dan ritual Yahudi, tradisi sosial dan bahasa, serta perkawinan campuran antara Yahudi dengan kelompok-kelompok etnis lainnya, seperti orang-orang Han, dan minoritas suku Hui dan suku Manchu di Cina.

 

 

Penggunaan bahasa Ibrani ditinggalkan. Dan orang Yahudi yang menikah dengan kelompok etnis lainya semakin meningkat. Padahal budaya Yahudi tergolong matrilineal beda halnya di Cina yang patrilineal. Kini ada sekitar 600 hinggga 1000 warga Kaifeng keturuan Yahudi. Menurut Zhao Hanyang mereka tak pernah berpikir untuk mengubah budaya mereka,“Waktu saya masih kecil, saya sangat taat mengikuti kebiasaan makan orang Yahudi, dan saya sekarang masih makan daging yang di sembelih dengan cara yang benar sesuai dengan kebiasaan kami, dan tentunya saya tidak makan daging babi.” Untuk beli daging kosher atau daging halal, Zhao tergantung pada tukang daging Islam terdekat. Dulu, orang Cina Yahudi dianggap sebagai satu kelompok dari komunitas “Hui” yang dalam bahasa Cina yang berarti Islam. Mereka kerap disebut sebagai Muslim Biru karena menggunakan peci warna biru.

Kini, kota itu ingin merasakan manfaat tinggal di sana, setelah masyarakat internasional semakin tertarik dengan komunitas orang Yahudi setempat. Bahkan, di Universitas Kaifeng, satu pusat penelitan untuk studi atau ilmu Yahudi sudah didirikan. Salah satu profesor seniornya adalah Guo Aisheng, yang ingin menghidupkan kembali warisan budaya Yahudi.“Ini adalah budaya yang tak ternilai, jadi karena itu banyak turis yang datang ke sini, dan semakin banyak orang yang tertarik dengan sejarah Yahudi. Sekarang kami sudah mengadakan banyak kerjasama dengan kaum akademik yang datang dari luar negeri, untuk saling menukarkan dan melakukan penelitan.”

Melalui kerjasama seperti ini dan juga kunjungan para turis Yahudi, komunitas orang Yahudi Kaifeng telah dihubungkan kembali dengan komunitas Yahudi yang lebih luas lagi. Dan sebagian diantara mereka kini sudah pindah ke Israel, seperti anak perempuan dari Zhao. “Anak perempuan saya yang keempat sudah belajar di Israel selama beberapa tahun belakangan ini. Dia bisa bicara dalam bahasa Ibrani dan banyak orang Yahudi asing yang datang dan bertemu dengan saya. Kami ngobrol soal berbagai cara berpikir dan cara hidup kami.”

 

 

kesimpulan

yahudi di cina telah ada pada masa dinasti dan berkembang hingga ke kota lainya di cina, namun mereka tidak ada yang mengetahui secara pasti tentang awal masuknya, namun yanh pasti yahudi di cina membentuk peradapan pusat- pusat keagamaan dan sinoga( pusat pembelajaran )pada dinasti di cina.

oleh : zos